Bergerak dari Desa ke Desa Menyebar Isu Inklusi Disabilitas

Hajatan Dialog Multipihak Gerakan
Sosial bagi Disabilitas tanggal 21 Agustsus 2019 di Desa Borisallo Kecamatan
Parangloe, telah mampu menginspirasi dan mengetuk nurani beberapa pihak
termasuk pemerintah desa dalam wilayah Kecamatan Parangloe. Betapa tidak,
kegiatan ini mampu menghadirkan  (empat)
OPD Pemerintah Kabupaten Gowa, PMD, Sosial, Capil dan  Bappeda. Namun yang terdahsyat adalah
melibatkan warga dan keluarga disabilitas yang selama ini belum pernah
menghadiri pertemuan semacamnya. Selain itu mengundang pula pengurus organisasi
disabilitas Kabupaten Gowa, beberapa desa yang menjadi dampingan Program Peduli
dan mengundang pula desa dalam lingkup wilayah kecamatan Parangloe.

Pasca pelaksanaan dialog, berita
terkait kegiatan tersebut dipulikasikan dan terbaca oleh beberapa pihak
termasuk pemerintah desa di kecamatan yang sama.

2 (dua) hari setelah publikasi
berita itu, Astina, Kasi Kesra yang sekaligus operator SIKS NG (BDT) Desa
Lonjoboko (salah satu desa di kecamatan Parangloe), membangun komunikasi dengan
kader disabilitas Borisallo, berharap desanya juga didukung agar dapat
melaksanakan hal yang sama. Informasi awal dari operator tersebut bahwa dirinya
selaku operator yang telah melakukan penjangkauan bagi warga miskin termasuk
disabilitas, telah memiliki data difabel sebanyak 42 orang.

Oleh kader Borisallo, informasi itu disampaikan ke YASMIB untuk dapat mengunjungi desa tersebut mendampingi operator mengadvokasi pimpinan di desanya. Menurutnya, dia membutuhkan pihak lain untuk meyakinkan pemerintah desa memperhatikan warga disabilitas melalui kebijakan anggaran desanya. Alasannya, prihatin dengan kondisi warga disabilitas yang beberapa diantaranya membutuhkan alat  bantu agar dapat menunjang aksesibilitasnya.

Tim YASMIB Sulawesi dan Kader Desa Borisallo berkunjung ke desa-desa

Tentu saja hal ini sangat pantas
untuk direspon positif dalam rangka menyebarluaskan isu inklusi disabilitas.
Hal kedua mengapa YASMIB merespon berita gembira ini karena ketua Forum Peduli
Disabilitas Borisallo, Muhammad Takdir juga memilki keinginan untuk memperluas
jangkauan desa yang memperlihatkan kepedulianya kepada warga disabilitas di
desa, di lingkup kecamatan Parangloe. Kecamatan Parangloe memiliki 2 (dua)
kelurahan dan 5 (lima) desa. Setelah mendapat konfirmasi dari YASMIB terkait
kesediaan kehadiran, disepakati tanggal 29 Agustus 2019 berkunjung ke desa
tersebut.

Sesuai kesepakatan di atas, pada
tanggal 29 Agustus 2019 Masita Syam dari 
YASMIB Sulawesi didampingi Ketua Forum Peduli Disabilitas Borisallo,
anggota BPD (Hasanuddin yang lebih akrab disapa Karaeng Paewa)  dan seorang aktifis Borisallo  (Awi) melakukan perjalanan ke desa Lonjoboko
yang letaknya hanya butuh 10 menit perjalanan dari Borisallo. Sesampainya di
lokasi, langsung disambut dengan sangat ramah oleh kepala Desa, dan jajarannya
serta  ketua BPD. Dalam proses diskusi
setelah mengenalkan diri dan menyampaikan maksud kedatangan kami, yakni dalam
rangka mensosialisasikan isu inklusi disabilitas.

Setelah menceritakan  implementasi program Peduli yang diawali dengan
sharing informasi proses yang dilakukan di Borisallo oleh Muhammad Takdir.  Pada sesi ini, banyak informasi tambahan dari
operator terutama tentang kondisi disabilitas yang diamini oleh Skeretaris desa
maupun kepala BPD (Salam).

Respon pemerintah desa secara
jelas memberi kesan,  bahwa pihaknya akan
mengupayakan pengalokasian anggaran untuk warga disabilitasnya.

“Hal ini sangat penting  untuk
dimulai dari tingkat desa mengingat tingginya angka penyandang disabilitas di
Lonjoboko, tinggal menunggu moment untuk sosialisasi sembari mengkoordinasikan
dengan Dinas PMD
”, sebut Syahraeni Syam, Kades Lonjoboko.

Menurut Ketua BPD: “Hal pertama yang harus dilakukan adalah
sosialisasi tentang isu ini, baik bagi kelompok disabilitas dan keluarga,
terlebih untuk warga masyarakat lainnya. Bahkan yang paling penting adalah
menyamakan persepsi di tingkat pemerintah desa sendiri”.

“Memberi bantuan bagi warga disabilitas, dapat dimasukkan untuk APBDEs
Perubahan 2019”,
tegas Sekretaris Desa, Abd. Muin.

Hal tersebut sejalan dengan apa
yang telah menjadi tawaran kami terkait apa yang mestinya dilakukan sebagai
langkah awal upaya menumbuhkan inlklusi sosial menuju rintisan desa inklusi.
Meninggalkan desa Lonjoboko dengan dipenuhi rasa senang atas respon yang sesuai
bahkan melebihi ekspektasi tim, akan sekonkrit itu pihak desa akan
menindaklanjutinya.

Tim  melanjutkan perjalanan menuju Desa Bontokassi
yang merupakan desa tetangga Borisallo, dengan tujuan yang sama. Bedanya, tidak
ada koordinasi awal dengan pihak desa. Pertimbangannya, bahwa jika dilihat dari
sisi waktu, masih memungkinkan bertemu dengan pemerintah desa, waktu
menunjukkann pukul 13.00. Selain itu, Tim selain YASMIB telah mengenal dengan
sangat baik kepala desa maupun perangkat desanya. Setibanya dikantor desa, tim
disambut oleh Muh. Anas Dg. Sialle, bagian pemerintahan menurutnya kepala desa
sedang mengunjungi warga di dusun yang terbilang jauh dari kantor desa.

Sesaat setelah Muhammad Takdir
menyampaikan maksud kunjungan, diluar dugaan, Muh. Anas  sangat mengapresiasi niat kami. Dengan
semangat beliau mengungkap bahwa selama ini hal itu telah mengganggu
pikirannya, bagaimana warga difabel juga mendapatkan kesempatan yang sama
dengan warga lainnya. Baik terkait dengan kesempatan berpartisipasi dalam
perencanaan pembangunan maupun kesempatan kerja, baik melalui peluang di Badan
Usaha Milik Desa (BUMDes) dan misal ada beberapa pengelola kegiatan yang
disabilitas bisa dititipkan satu atau dua orang.

 “Selama ini saya bingung akan
melakukan apa, mereka butuh support. Jadi format saja acara sosialisasi,
hadirkan mereka supaya mereka juga merasa menjadi bagian dari warga lainnya”,

harapnya.

Mengakhiri bincang singkat
tersebut, Muh. Anas berjanji akan meneruskan maksud kehadiran kami kepada
Kepala Desa dan berupaya akan meyakinkannya untuk dapat menindaklanjuti
penyampaian  kami.

Tim melanjutkan perjalanan ke
Kelurahan Bontoparang, dengan tujuan yang sama, menemui Lurah dan jajarannya.
Namun disayangkan tak seorangpun pejabat kelurahan berada di tempat, tim
diterima oleh staf. Sebelumnya memang tim tidak mengkoordinasikan rencana
kedatangan. Muhammad Takdir menjelaskan niat kami terkait upaya menyebarluaskan
inklusi sosial dan  bagaimana pemerintah
kelurahan dapat mengambil peran di dalamnya. Penjelasan itu didengarkan secara
seksama oleh kedua staf tersebut.

Roadshow kami berakhir di
Bontoparang dan berharap dapat menjangkau semua desa/kelurahan di Parangloe,
dalam rangka memulai ikhtiar sebagai upaya membumikan inklusi sosial di
Parangloe, menuju Kabupaten Gowa Inklusi.

Penulis: Masita Syamsuddin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *