Yasmib Sesalkan Tindakan Satpol PP Bone kepada Disabilitas

Andi Takdir korban kekerasan Satpol PP Bone

Swadaya Mitra Bangsa (Yasmib) Sulawesi menyesalkan sikap arogan dan kasar oknum Satpol PP Kabupaten Bone.

“Pemukulan di depan anak kecil secara psikologi akan membuat anak tersebut trauma,” kata Masita, Direktur Program Yasmib, Rabu 27 Desember 2017.

Dari keterangan korban, anaknya menjadi ketakutan setiap kali melihat polisi. Karena Satpol PP juga dianggap polisi.

“Penting bagi aparat untuk memiliki sensitifitas terhadap kondisi kejiwaan anak,” kata Masita.

Sebelumnya, Ketua Persatuan Penyandang Disabilitas Indonesia Kabupaten Bone Andi Takdir mendapat perlakuan tidak manusiawi dari sejumlah Anggota Satpol PP yang melakukan penertiban di Lapangan Merdeka Bone.

Satpol PP melarang sejumlah anak menari. Namun Andi Takdir yang saat itu mengajak anaknya menonton protes. Karena anak-anak yang belajar menari di Lapangan Merdeka tidak mengganggu ketertiban.

Sikap Andi Takdir ini pun dibalas dengan kekerasan oleh Anggota Satpol PP. Kasus ini telah dilaporkan ke polisi.

Lima orang diduga sebagai pelaku. Mereka terekam dalam kamera warga saat peristiwa terjadi.

“Tiga orang sudah mengakui perbuatannya,” kata Abdul Rahman, Direktur Pengurus Pusat Pergerakan Difabel Indonesia untuk Kesetaraan (PerDIK).

Rahman meminta Kepala Satpol PP Bone melakukan evaluasi internal. “Polisi juga harus profesional dalam menangani kasus ini, ” ujar Rahman.

Kronologis Pengeroyolan Andi Takdir

Andi Takdir menceritakan kronologis kekerasan terhadap dirinya. Berikut penjelasannya :

Sekitar pukul 20.00 saya dan anak saya yang berusia 4 tahun jalan-jalan ke Lapangan Merdeka. Mau membawa si buah hati menonton latihan menari.

Singkat cerita, saya dan anak saya lagi asik duduk menyaksikan latihan menari. Tiba-tiba datang Satpol PP membubarkan latihan menari tersebut. Saya sontak heran, dan balik menegur pimpinan Satpol PP. Lok kok dibubarkan pak ?

“Tidak boleh ada begini di sini, ini bukan tempatnya,” kata Satpol PP.

“Kok dilarang, memang ada aturannya, kan mereka tidak merusak,  mereka ini kreatif, masa mau dibubarkan anak muda yang berkreasi,  toh tidak ada yang mereka rusak,”

Tak ada pula pengunjung yang keberatan, lalu saya menyuruh teman-teman melanjutkan latihan mereka.

Tiba-tiba pimpinan Satpol PP menendang kaki saya, kemudian ikutlah anggotanya yang lain mengeroyok saya.

Sampai saya terpisah dari anak saya yang masih kecil. Mereka menyeret saya, kemudian diangkat lalu dicekik seperti penjahat yang akan melarikan diri.

“Saya berteriak teriak lepaskan saya. Kenapa saya dikasi gini, mana anak saya ? mana anak saya ?, saya berulang ulang memanggil anak saya namun mereka tidak peduli.

Semakin saya memberontak mau melepaskan diri semakin keras cekikan oknum Satpol PP tersebut.

Saya diteriaki pemabuk lah, habis minum lah, kurang ajar lah, tidak sopan lah… 

Lama berselang, datang seorang ibu membawa anak saya. Satpol PP tersebut malah menyuruh ibu itu pergi, lalu saya berteriak lagi woooe.. kenapa saya dikasi gini apa salah saya ?, ada yg berteriak mengatakan kamu kurang ajar melawan lawan kalau ditanya.

Makassarterkini.com  / Yasmib.org