Aktor Disabilitas Terlibat dalam Perencanaan Pembangunan Desa Mattiro Baji

Musyawarah Desa Mattiro Baji di Pulau Saugi

YASMIB.org – Pelibatan kelompok disabilitas dalam proses pengambilan kebijakan pemerintah desa merupakan sasaran utama Yayasan Swadaya Mitra Bangsa (YASMIB) di Sulawesi Selatan dalam pelaksanaan program The Asia Foundation – Social Accountability and Public Participation – Civil Registration and Vital Statistics (TAF-SAPP-CRVS). Program ini merupakan bagian dari Kolaborasi Masyarakat dan Pelayanan untuk Kesejahteraan (KOMPAK).

Di Mattiro Baji, Kecamatan Liukang Tupabbiring Utara, Pangkajene dan Kepulauan (Pangkep), YASMIB mengorganisasikan orang-orang dengan disabilitas dalam ‘jaringan disabilitas’ (JD) desa.

Selain menjadi wadah komunikasi bagi para anggotanya untuk mendiskusikan isu-isu yang dihadapi mereka, JD ini juga diharapkan dapat mendorong partisipasi mereka dalam perumusan kebijakan pemerintah desa.

Di desa ini juga YASMIB telah mendorong pelaksanaan pendataan penduduk secara inklusif untuk merekam profil disabilitas termasuk jenis disabilitas, ragam disabilitas, dan juga kebutuhan mereka untuk dapat mengakses layanan kesehatan, pendidikan, dan pekerjaan.

Hasil pendataan YASMIB yang dilakukan bulan Februari-Maret 2017 menunjukkan bahwa di desa miskin dengan jarak  sekitar 17 kilometer dari ibukota Kabupaten Pangkep di daratan Sulawesi ini, terdapat 35 warga dengan berbagai macam disabilitas seperti daksa, netra, rungu, grahita, dan laras mental di antara 1.410 penduduk. 

YASMIB juga menemukan bahwa persoalan disabilitas di desa ini belum mendapatkan perhatian khusus. Pemerintah desa bahkan belum pernah melakukan pendataan atas keberadaan dan permasalahan mereka.

Kelompok disabilitas juga tidak pernah dilibatkan dalam berbagai kegiatan desa, termasuk dalam musyawarah desa (musdes). Kurangnya perhatian terhadap kelompok disabilitas juga tercermin dalam kebijakan anggaran desa tahun sebelumnya, di mana tidak ditemukan program dan kebijakan khusus yang ditujukan untuk mereka.

Berbekal data yang dimiliki, sejak bulan April 2017, YASMIB juga memfasilitasi Pemerintah Desa Mattiro Baji mendorong dan meningkatkan kemampuan pemerintah desa dalam merespon permasalahan yang dihadapi kelompok rentan. Aeperti perempuan miskin, penyandang disabilitas, dan anak.

Disisi lain, YASMIB juga memfasilitasi berbagai pertemuan kelompok-kelompok rentan untuk meningkatkan pemahaman hak dasar mereka dan memotivasi mereka untuk ikut mempengaruhi kebijakan pemerintah desa agar lebih responsif terhadap kebutuhan mereka.

Khusus untuk penyandang disabilitas, YASMIB menfasilitasi pengorganisasian kelompok disabilitas melalui pertemuan pada tanggal 24 Mei 2017.  Dalam pertemuan ini, 18 warga disabilitas (12 perempuan) menyepakati pembentukan Jaringan Disabilitas (JD) desa dan memilih Kasmuddin (49 Tahun) sebagai ketua.

Kasmuddin adalah seorang disabilitas daksa yang berdomisili di Pulau Sapuli, Desa Mattiro Baji. Ia merupakan seorang nelayan, tetapi harus berhenti melaut sejak mengalami kecelakaan yang mengakibatkan keretakan pada lengan kirinya.

Kecelakaan tersebut mengakibatkan tangan kirinya harus ditopang dengan plat besi dan hanya bisa mengangkat beban tidak lebih dari 2 kilogram. Kini Pak Kasmudin hanya mencari kepiting di sekitar Pulau Sapuli sambil bekerja sebagai tukang kayu.

Berbagai proses pendampingan baik di sisi pemerintah desa maupun di tingkat warga menemukan momentumnya dalam musyawarah desa penyusunan Rencana Kerja Pemerintah Desa (RKPDesa) tahun 2018. Pemerintah desa mengikutsertakan lima orang perempuan (salah satunya dari jaringan perempuan yang difasilitasi YASMIB) dan satu orang perwakilan kelompok disabilitas (Ketua JD) dalam tim penyusun RKPDesa tahun anggaran 2018 yang beranggotakan 11 orang. 

Dalam proses musdes tersebut, walaupun Pak Kasmuddin (Ketua JD) sebelumnya belum punya pengalaman berbicara di forum musdes, ia mampu berpartisipasi aktif dan dapat mengemukakan berbagai masalah serta solusi bagi kelompok disabilitas. 

Sebelumnya, ia juga telah mendiskusikan usulan-usulannya bersama dengan anggota JD lainnya. Atas usulan Pak Kasmuddin, rapat tersebut menyepakati beberapa prioritas kegiatan untuk kelompok disabilitas, seperti penguatan ekonomi disabilitas.

Cerita di atas menunjukkan bahwa fasilitasi yang dijalankan oleh YASMIB telah membantu mempertemukan kelompok rentan terutama penyandang disabilitas dengan pemerintah desa.

Interaksi kedua pihak saat ini telah terjalin dan terefleksi dalam proses pengambilan kebijakan sebagaimana dicontohkan dalam pelibatan Kasmudin dalam tim penyusun RKPDesa 2018 di atas.

Interaksi ini telah memberi modal utama baik kelompok disabilitas maupun pemerintah desa untuk mendorong pembangunan desa yang inklusif.

Tantangan selanjutnya adalah sejauh mana interaksi ini berlanjut dalam berbagai proses pengambilan keputusan di desa termasuk dalam penyusunan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Desa (RPJMDesa), Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa (APBDesa), dan juga pelaksanaan program nantinya.