Andi Isma, Ibu Rumah Tangga Difabel Aktor Perubahan di Bantaeng

Andi Isma

 

YASMIB.org – Orang dengan disabilitas atau difabel merupakan sasaran program The Asia Foundation – Social Accountability and Public Participation – Civil Registration and Vital Statistics (TAF-SAPP-CRVS) yang merupakan bagian dari Kolaborasi Masyarakat dan Pelayanan untuk Kesejahteraan (KOMPAK). 

Program yang difasilitasi Yayasan Swadaya Mitra Bangsa (YASMIB) digelar di Kabupaten Bantaeng. Karena kelompok difabel di daerah ini dilaporkan hanya dilibatkan dalam pertandingan olah raga khusus difabel. 

Para difabel di kabupaten ini belum memiliki organisasi yang dapat menyuarakan kepentingannya dalam proses pengambilan kebijakan publik. Pemerintah juga belum terpanggil melibatkan komunitas difabel dalam proses-proses pembangunan, termasuk di tingkat desa.

Tidak heran jika minim sekali program dan anggaran desa dan kabupaten yang ditujukan bagi mereka. Secara umum, pemerintah, maupun masyarakat luas, menganggap bahwa difabel hanya membutuhkan akses pendidikan di sekolah luar biasa (SLB), dan tidak terlalu memikirkan kemungkinan bahwa sebagian difabel dapat bersekolah reguler. 

Akses difabel pada layanan publik lainnya juga terbatas, tidak ada infrastruktur yang disediakan untuk mereka.  Bahkan pemerintah, termasuk di tingkat desa, tidak memiliki data mengenai warganya yang difabel.

Melalui proses identifikasi awal YASMIB pada tahap persiapan program Januari 2017, ditemukan 19 (lima perempuan) dan 39 (21 perempuan) difabel. Masing-masing di Desa Rappoa dan Papanloe (keduanya di Kecamatan Pajukukang) yang menjadi fokus program.

YASMIB kemudian memfasilitasi pemerintah kedua desa untuk melakukan pendataan penduduk, termasuk mengumpulkan data detil warga yang difabel – jenis dan kebutuhannya. 

Jumlahnya yang relatif sedikit – populasi Rappoa 1.738 orang (907 perempuan) dan Papanloe 2.773 orang (1.394 perempuan) – membuatnya kerap tidak diperhatikan. 

Di tingkat kabupaten, YASMIB mengidentifikasi Andi Ismayanti Saleh (Andi Isma) – difabel daksa pada kaki kiri sejak lahir – yang merupakan contact person Himpunan Wanita Disabilitas Indonesia (HWDI) Provinsi Sulawesi Selatan di Bantaeng.

Isma relatif beruntung karena kedua orangtuanya berprofesi guru, sangat mementingkan pendidikan. Sehingga Isma bisa kuliah dan menyandang gelar sarjana hukum. 

Untuk menopang kehidupannya saat kuliah, ia menjadi penjaga anak (baby sitter). Selepas kuliah, ia sempat bekerja di kantor hukum dan notaris, menjadi guru dan dosen di beberapa tempat di Sulawesi Selatan dan Biak (Papua). 

Karena alasan keluarga, Isma akhirnya memilih kembali ke kampung halamannya. Menjadi guru paruh waktu di sebuah lembaga pendidikan, selain merawat satu orang anaknya. 

Walaupun Andi Isma adalah contact person HWDI, kegiatannya terkait dengan “jabatan” ini tidak banyak. Ia tidak tahu harus berkerjasama dengan siapa dan memulai dari mana.  Ia mengikuti pelatihan HWDI tahun 2014. 

Setelah itu, ia diminta untuk menginisiasi pembentukan HWDI Bantaeng, dengan mengumpulkan 20 perempuan dengan jenis disabilitas yang beragam. Walau Andi Isma beberapa kali berusaha mengumpulkan data perempuan difabel, upayanya tidak membuahkan hasil karena data yang dibutuhkan tidak tersedia di kantor-kantor pemerintah kabupaten dan desa.

Pada minggu terakhir April 2017 YASMIB mengundang Andi Isma untuk mewakili warga difabel Bantaeng dalam lokakarya di aula kantor Wakil Bupati Bantaeng. Membahas berbagai isu terkait dengan peningkatan layanan publik bagi kelompok marginal, utamanya perempuan dan kelompok disabilitas.

Keterlibatannya di lokakarya tersebut, menguatkan keinginan Andi Isma untuk lebih aktif dalam mengadvokasikan isu-isu disabilitas.  Melihat semangat, perhatian dan juga pemahaman Andi Isma terkait dengan isu-isu disabilitas, YASMIB langsung melibatkannya dalam kegiatan-kegiatan program TAF-SAPP-CRVS. 

***

Masih pada bulan April 2017, Andi Isma langsung dilibatkan dalam diskusi pembentukan kelompok difabel di Desa Rappoa dan Papanloe.  Dalam diskusi yang membahas hak-hak dasar kaum difabel, gender, dan inklusi sosial tersebut Andi Isma memotivasi 30 warga difabel dan keluarganya untuk terus beraktivitas dan tidak menyerah pada keadaannya. Diskusi ini berujung pada pembentukan Jaringan Disabilitas (JD) di kedua desa.  

Andi Isma, bersama YASMIBI, kemudian memfasilitasi Rahman, Yayat, dan Taufiq yang diidentifikasi sebagai difabel di kedua desa yang membutuhkan akses pada layanan pendidikan. Sesuai masalah dan kebutuhannya.

Rahman dan Yayat dapat mengikuti layanan pendidikan non-formal tanpa biaya di Panti Sosial Bina Daksa Wijaya (PSBDW) Makassar – di bawah Kementerian Sosial – mulai bulan Desember 2017.  Sementara itu Taufiq diterima di SD Negeri 41 Rappoa dan mulai bersekolah pada tahun ajaran 2017/2018.

Andi Isma menjadi semakin bersemangat untuk terlibat dalam kegiatan-kegiatan yang difasilitasi YASMIB.  Ia menjadi aktor penting dalam pembentukan JD tingkat kabupaten pada akhir Agustus 2017.

Isma memfasilitasi diskusi untuk mengkonsolidasikan teman-temannya warga difabel yang dianggapnya bisa diajak untuk melakukan kerja-keja advokasi bersama di tingkat kabupaten.

Dalam pertemuan yang dihadiri 16 orang difabel itu, termasuk masing-masing seorang wakil difabel dari enam desa di Kecamatan Pajukukang, dibahas berbagai isu terkait layanan dasar bagi kelompok difabel. 

Diskusi yang juga dihadiri dua organisasi masyarakat sipil perempuan di Bantaeng itu – Aisiyah Muhammadiyah dan Koalisi Perempuan Indonesia (KPI)– menyepakati perlunya membentuk organisasi sebagai tempat berkumpul dan pusat informasi bagi kelompok disabilitas. Agar mereka memiliki wakil dalam berkomunikasi dengan pemerintah. Ikut mempengaruhi proses pengambilan kebijakan.

Organisasi ini juga diharapkan dapat mengkonsolidasikan advokasi isu-isu disabilitas. Andi Isma kemudian terpilih secara aklamasi sebagai sekretaris JD Kabupaten Bantaeng. Ia mendampingi Hasnawi, seorang guru olahraga yang difabel, yang juga secara aklamasi dipilih sebagai ketua.

Andi Isma, bersama JD, mulai berbagai inisiatif mengadvokasi isu-isu disabilitas di Kabupaten Bantaeng. Selain aktif menjadi narasumber berbagai forum diskusi yang diselenggarakan YASMIB, ia juga berusaha mengembangkan model JD ke desa-desa lain, seperti di Kelurahan Lasepang (Kecamatan Lamalakka) dan Desa Ulugalung (Kecamatan Eremerasa).

Di kedua desa tersebut JD terbentuk tanpa dukungan langsung dari program TAF-SAPP-CRVS pada bulan September 2017.

Di Lasepang, Andi Isma bersama JD membantu Akbar Pratama (10 tahun), anak laki-laki difabel daksa, untuk mendapatkan layanan terapi dan alat bantu dari PSBDW dan YPAC (Yayasan Pembinaan Anak Cacat) Makassar.

Andi Isma mengusahakan berbagai dokumen dari Dinas Sosial yang disyaratkan agar Akbar bisa mendapatkan fasilitas layanan dari dua organisasi tersebut. Sedangkan di Desa Ulugalung, Andi Isma dan JD desa membantu Dina Putri –perempuan berusia tujuh tahun difabel daksa–  untuk mendapatkan akta kelahiran dan kartu keluarga. Dina Putri hidup bersama neneknya yang miskin, sementara orang tuanya pergi menjadi buruh migran di luar negeri.

***

Sejak awal September 2017 Andi Isma mengabdikan dirinya untuk mengajar di TK Islam Tahfidzul Qur’an Chamsiyah Di Desa Ulugalung. Pelibatan dirinya sebagai guru di TK ini awalnya bukan semata mencari pekerjaan, tetapi lebih diakibatkan keterpanggilan dirinya mendengar, bahwa TK yang dikelola oleh sahabatnya ini terpaksa menolak siswa difabel karena ketiadaan guru yang sanggup membimbing siswa berkebutuhan khusus. 

Kehadiran Andi Isma sebagai guru di TK ini selanjutnya membuat pihak sekolah berani mengundang siswa difabel untuk belajar di sana.

Dalam kurun waktu kurang dari dua bulan, sekolah ini dapat menerima lima siswa (empat orang sulit berkomunikasi dan hiperaktif, serta seorang dengan disabilitas daksa) untuk dididik bersama dengan siswa yang lainnya.

Kepala TK kemudian menambahkan ‘inklusi’ di akhir nama sekolahnya, sehingga saat ini TK ini bernama TK Islam Tahfidzul Qur’an Chamsiyah Inklusi.

Selain nama, TK ini juga saat ini sedang memperbaiki sarana dan prasarana sekolah agar dapat memenuhi kebutuhan siswa difabel dengan memanfaatkan dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) yang secara rutin diterima.

Tantangannya adalah menemukan sebanyak mungkin dan memberdayakan aktor seperti Andi Isma dan membantunya untuk bisa melakukan advokasi untuk memperbaiki kebijakan secara nyata, baik di tingkat desa maupun kabupatenBerperan aktifnya Andi Isma dalam advokasi isu disabilitas di Bantaeng menunjukkan, bahwa banyak warga potensial di tingkat lokal yang bisa menjadi aktor perubahan.